Dalam upaya memperkuat ekosistem inovasi dan kewirausahaan di kalangan generasi muda, Direktorat Inkubasi Bisnis dan Teknologi – Science Techno Park (IBT-STP) Universitas Hasanuddin menggelar sesi inspiratif bertajuk “Finding Strong Why”. Kegiatan ini menghadirkan Dibya Pradana, ST., M.Kom, Bendahara MIKTI sekaligus CEO PT Jejala Pararta International, sebagai narasumber utama.

Acara ini menjadi ajang berbagi wawasan tentang bagaimana membangun fondasi yang kuat bagi startup melalui pemahaman mendalam terhadap motivasi, empati terhadap pengguna, serta pentingnya penerapan budaya inovasi berbasis teknologi.
Melalui kegiatan seperti ini : kami ingin menanamkan semangat inovasi dan kewirausahaan berbasis teknologi kepada generasi muda, khususnya mahasiswa. IBT-STP Universitas Hasanuddin berkomitmen menjadi wadah inkubasi yang tidak hanya memfasilitasi ide-ide kreatif, tetapi juga membimbing calon pelaku startup agar mampu menghadirkan solusi nyata bagi tantangan masyarakat. Kami percaya bahwa inovasi yang kuat selalu berawal dari ‘why’ yang jelas dan berdampak. Ungkap Kasubdit Inkubator dan Startup, Afdal madein.
Dalam pemaparannya, Dibya menjelaskan perbedaan mendasar antara startup dan UMKM, serta menekankan bahwa startup dituntut untuk tumbuh cepat dengan model bisnis yang scalable dan inovatif, sementara UMKM lebih berfokus pada stabilitas dan kebutuhan lokal.
Selain itu, materi juga membahas pentingnya pengembangan budaya inovasi yang ditanamkan sejak dini, mulai dari masa anak-anak hingga dewasa, sebagai fondasi bagi ekosistem wirausaha yang adaptif dan solutif. Design Thinking diperkenalkan sebagai pendekatan utama yang berpusat pada pengguna dan terbukti efektif dalam menciptakan solusi yang relevan di pasar.
“Design Thinking bukan sekadar metode, tapi cara berpikir yang mendorong inovasi berkelanjutan dan kolaborasi lintas disiplin,” ungkap Dibya dalam sesi tersebut.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai tools digital yang dapat dimanfaatkan dalam setiap tahap design thinking, mulai dari tahap empati hingga pengujian prototipe. Hal ini diharapkan dapat membantu startup untuk lebih cepat beradaptasi dan meminimalisir risiko kegagalan di pasar.
Serta dilanjutkan sesi tanya jawab salah satu startup Tanio dengan Narasumber mengenai bagaimana startup bisa Fokus produksi pakan organik, beras merah. Beras merah karena kami melihat salah satu potensi produk yang paling banyak Menurunkan gula darah. Bisa membantu meringankan gula darah dan memperbaiki kadar insulin.
Melalui kegiatan ini, Universitas Hasanuddin menegaskan komitmennya dalam mendorong lahirnya startup inovatif yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga berorientasi pada pemecahan masalah nyata di masyarakat.


